etnomatematika materi satuan panjang dan berat terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan

Makalah
Integrasi
Etnomatematika Kearifan Lokal Kalimantan Selatan Dalam Pembelajaran Satuan
Panjang dan Berat
Disusun
untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Pengembangan Pembelajaran
Matematika SD
Dosen
Pengampu : Prof. Dr.
Zaenuri SE, MSi Akt., MSi
Oleh:
Wulan Aulia
Azizah (0103518091)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN DASAR
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
pembelajaran matematika, salah satu faktor yang menyebabkan kesulitan belajar
siswa adalah adanya perbedaan konsep matematika yang diperoleh di sekolah
dengan konsep matematika yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
disebabkan karena konsep matematika yang diperoleh siswa di sekolah terlalu
teoritis dan kurang kontekstual sehingga siswa kebingungan saat menemui
permasalahan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya
saja saat pembelajaran matematika materi satuan panjang dan satuan berat, anak-anak
kesulitan mengimplementasikannya di kenyataan, karena pada proses pembelajaran
hanya diarahkan pada pemahaman konsep saja, dimana anak hanya diminta menghafal
satuan panjang dan berat tanpa ada proses pengintegerasian dengan permasalahan
matematika yang sering mereka jumpai di kehidupan mereka sehari-hari.
Polya (1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembali semua langkah yang
telah dikerjakan.
Fase memahami masalah tanpa adanya pemahaman terhadap masalah yang
diberikan, siswa tidak mungkin menyelesaikan masalah tersebut dengan benar,
selanjutnya para siswa harus mampu menyusun rencana atau strategi.
Penyelesaian masalah, dalam fase ini sangat tergantung pada pengalaman
siswa lebih kreatif dalam menyusun penyelesaian suatu masalah, jika rencana
penyelesaian satu masalah telah dibuat baik tertulis maupun tidak. Langkah
selanjutnya adalah siswa mampu menyelesaikan masalah, sesuai dengan rencana
yang telah disusun dan dianggap tepat. Dan langkah terakhir dari proses
penyelesaian masalah menurut polya adalah melakukan pengecekan atas apa yang
dilakukan. Mulai dari fase pertama hingga hingga fase ketiga. Dengan model
seperti ini maka kesalahan yang tidak perlu terjadi dapat dikoreksi kembali
sehingga siswa dapat menemukan jawaban yang benar-benar sesuai dengan masalah
yang diberikan.
Merujuk pada penyelesaian masalah menurut Polya,
pemakalah berpendapat bahwa dibutuhkan
sebuah pendekatan
untuk menyelesaikan masalah seperti langkah-langkah Polya, dimana
dibutuhkan pengkaitan di dalam menyusun penyelesaian suatu masalah dengan
pengalaman yang nyata, pengalaman yang biasa muncul di kehidupan mereka
sehari-hari, agar siswa menjadi lebih kreatif di dalam penyusunan penyelesaian
masalah hingga di dalam penyelesaian masalah.
Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk menghubungkan
antara matematika yang diajarkan di sekolah dengan matematika
dalam kehidupan sehari-hari yang sering
disebut etnomatematika.
Kajian etnomatematika bersumber dari kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang
di masyarakat (Ambrosio, 1985). Hal ini sejalan dengan Permendikbud Nomor 21
tahun 2016 tentang sumber belajar yang dimulai dari lingkungan keluarga,
sekolah dan tempat bermain.
Pendekatan
tersebut dapat diaplikasikan melalui pengintegrasian etnomatematika dalam
pembelajaran matematika. Seperti yang kita ketahui, Indonesia dikenal sebagai
negara yang kaya akan budaya, suku, dan etnis. Jadi, sangat memungkinkan sekali
bagi guru untuk mengintegrasikan etnomatematika pada pembelajaran sehingga
memunculkan nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan salah satu sumber belajar
kontekstual dan akrab di kehidupan siswa sehari-hari.
Menurut
Permana (2010:20), Kearifan lokal
adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-politis, historis, dan
situasional yang bersifat lokal. Kearifan lokal juga dapat diartikan sebagai
pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud
aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah
dalam pemenuhan kebutuhan mereka.
Adapun
salah satu kearifan lokal yang akan diangkat oleh penulis disini adalah
kearifan lokal Kalimantan Selatan. Kalimantan
Selatan merupakan pulau terluas di
Indonesia,
dengan 11 kabupaten dan 2 kotamadya, yang mana ada banyak kearifan lokal yang
dapat diintegrasikan pada pembelajaran matematika materi satuan panjang dan
berat.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk
membatasi penguraian pembahasan, maka penyusun membuat beberapa rumusan masalah
berupa pertanyaan yaitu:
1. Apa
saja kearifan lokal yang ada di Kalimantan Selatan?
2. Apa
pengertian dari etnomatematika?
3. Bagaimana
cara pengintegerasian etnomatematika materi
Satuan Panjang dan berat terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan?
1.3 Tujuan Penulisan
Sesudah
membaca makalah ini pembaca diharapkan dapat:
1. Un
tuk
mengetahui ragam kearifan lokal Kalimantan Selatan.
2. Untuk
memahami pengertian dari etnomatematika.
3. Untuk
memahami konsep dan cara pengintegrasian etnomatematika materi satuan panjang
dan berat terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kearifan Lokal
Kalimantan Selatan
Kalimantan
Selatan merupakan pulau terluas di
Indonesia. Wilayah ini kemudian dibagi ke dalam beberapa provinsi, salah
satunya adalah Kalimantan Selatan dengan ibu kota Banjarmasin. Provinsi dengan
slogan “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing” ini dibagi lagi ke dalam 11
kabupaten dan dua kotamadya. Sama seperti wilayah lainnya di Indonesia,
Kalimantan Selatan juga menyimpan pesona wisata yang luar biasa. Selain hutan
tropisnya yang memukau, jejak sejarah beberapa kerajaan di sana juga wajib Anda
sambangi. Beberapa kearifan lokal yang tak boleh terlewat diantaranya, jembatan Barito, rumah
adat Kalimantan Selatan, tempat wisata di Kalimantan Selatan, makanan Khas
Kalimantan Selatan, permainan khas Kalimantan Selatan, dan lagu daerah
Kalimantan Selatan.
2.1.1 Jembatan Barito
Gambar 1
Jembatan
Barito yang
seluruh fisiknya didominasi dengan warna kuning, bila menengok ke atas, maka
akan terlihat sebuah papan nama besar melekat erat pada ketinggian tiang baja di
atas jembatan bertuliskan Jembatan Barito. Sebagaimana diketahui bahwasanya
Jembatan Barito dibangun untuk menghubungkan Tepian Barat Sungai Barito dan
Tepian Timur Sungai Barito yang jarak kedua tepian itu sekitar 800 meter dengan
ketinggian dari permukaan air laut sekitar 18-20m.
2.1.2 Rumah Adat Kalimantan
Selatan
Gambar
2
Gambar diatas
merupakan rumah adat Kalimantan Selatan yang dikenal dengan nama rumah Bubungan
Tinggi, ada juga istilah lain menyebut dengan “rumah Banjar”/”Rumah Ba'anjung”.
Keduanya merujuk pada rumah adat Kalimantan Selatan. Disebut rumah
Banjar, sebab memang mayoritas suku di Kalimantan Selatan adalah suku Banjar.
Rumah yang mereka diami ini tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.
Oleh sebab itu ia dinobatkan sebagai rumah adat provinsi tersebut. Adapun
istilah “Rumah Bubungan Tinggi” mengacu pada bentuk rumah adat itu sendiri yang
memang bagian atamnya tinggi dan lancip hingga membentuk sudut 45 derajat.
Adapun pondasi, tiang juga tongkat pada rumah Banjar haruslah tinggi sebab
tanah Banjar cenderung berawa.
2.1.3 Wisata di
Kalimantan Selatan
Ada
beberapa tempat wisata yang memang menjadi ciri khas dan wajib disambangi
apabila kita berkunjung ke Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Ada pasar terapung
dan Pasar Cahaya Bumi Selamat atau yang lebih dikenal dengan pasar intan
Martapura.
Gambar 3. Pasar Terapung
Pasar
Terapung di Sungai Martapura termasuk dalam Kalender 100 Wonderful Events
Indonesia tahun 2018. Pasar terapung ini mempertahankan
seni jual beli tradisional dengan menggunakan perahu. para pedagang menggunakan perahu jukung,
yaitu sejenis perahu kecil terbuat dari kayu. Para pedagang kebanyakan adalah para wanita yang mengenakan pakaian tanggui dan caping
lebar khas Banjarmasin yang terbuat dari daun rumbia. Barang-barang
yang mereka jual pada
umumnya sama saja seperti pasar-pasar tradisional yang ada di
darat, yaitu beras, sayur-mayur, buah-buahan, ikan, penganan (makanan)
dan lain sebagainya.
Proses
transaksi jual beli berlangsung ketika para pedagang mulai
berkumpul,
kemudian pembeli mulai datang
dengan menggunakan jukung sendiri maupun sewaan. Suasana pasar menjadi
ramai dengan hilir-mudiknya jukung, baik besar maupun kecil. Apabila
keadaan pasar sudah terlalu ramai dan perahu
yang ada sudah berdesak-desakan,
maka para pembeli bisa meloncat dari satu perahu ke perahu yang lain
untuk membeli barang. Sebagai catatan, di pasar terapung ini juga sering
terjadi transaksi barter antarpedagang yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk.
Kota Martapura merupakan ibukota Kabupaten
Banjar yang terletak di provinsi Kalimantan Selatan. Pada hari biasa, pasar ini dikunjungi oleh sekitar 10.000
orang perhari. Tapi pada akhir pekan atau hari libur nasional, Pasar
Intan Martapura dapat dipadati hingga sekitar 20.000 pengunjung perhari.
Kompleks pertokoan yang ada di Pasar Intan Martapura menyediakan 87
toko intan yang dibagi dalam empat blok pasar. Batu intan yang diperjual
belikan di pasar ini sudah diolah dalam bentuk perhiasan. Harganya berkisar
antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung keunikan ataupun
kelangkaan jenis batu intan.
Peluang bisnis batu intan Martapura tidak
hanya ada di kota ini. Intan yang dibeli seharga Rp 20.000 di Pasar Intan
Martapura bisa dijual kembali dengan harga Rp 50.000 bahkan Rp 100.000 di pulau
Jawa. Sungguh bisnis yang cukup menguntungkan. Murahnya harga batu intan di
pasar ini tentu saja karena proses penggosokan batu intan masih dilakukan
secara tradisional sehingga pesonanya kurang terpancar.
2.1.4 Makanan
khas Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan memiliki makanan khas yang wajib
anda cicipi ketika berkunjung,diantaranya:
Gambar 5. Soto Banjar
Keunikan Soto Banjar dibanding
jenis Soto lain di Indonesia yaitu tidak mengunakan nasi melainkan pakai ketupat, dan katanya lebih nikmat lagi
kalau disantap bersama Sate.
Gambar 6. Ketupat Kandangan
Berbeda dengan Soto Banjar,
Ketupat Kandangan memiliki kuah yang keruh karena ditambahkan santan sebagai
penambah citarasanya. Selain itu, terkadang ditambahkan ikan atau telur sebagai
variasi lauknya.
Perbedaan Ketupat
Kandangan dengan ketupat pada umumnya yaitu nasi ketupatnya agak lebih keras.
Tapi, hal ini bukanlah mengurangi citarasanya, justru malah meningkatkan
kenikmatan ketupat tersebut. Yang belum coba, wajib mencicipinya.
Gambar 7.
Manday
Manday, makanan khas Kalimantan ini terbuat dari kulit cempedak atau orang Kalimantan Selatan kerap menyebutnya tiwadak yang diawetkan dalam
waktu yang cukup lama.
Proses pengawetannya
pun cukup sederhana yaitu dicampur dengan garam, kemudian didiamkan dalam
tempat yang tertutup rapat. Sedangkan lama pengawetan tergantung selera
masing-masing, makin lama semakin asam rasanya dan semakin enak.
Manday umumnya dimasak
dengan cara di goreng, walaupun ada juga yang memasaknya dengan cara digulai
dan dibakar. Dengan ditambah beberapa rempah-rempah maka rasa asam dari kulit
cempedak pasti enak rasanya.
Gambar 8. Pakasam
Pembuatan Iwak Pakasam
atau disebut Iwak Basamu ini hampir mirip dengan Manday, perbedaannya hanya pada bahan dasarnya yaitu ikan seperti Ikan Haruan
(Ikan Gabus), Ikan Pepuyu, Ikan Mangki, dan Ikan Sepat.
Proses pembuatannya
yaitu ikan yang sudah dibersihkan akan diberikan garam seperti Manday dan
diberi juga samu yaitu beras yang sudah ditumbuk tapi masih berbentuk. Kemudian
ikan tersebut didiamkan beberapa waktu.
Lamanya pengawetannya
tergantung selera masing-masing, ada yang berbulan-bulan saja, tapi ada juga
yang bertahun-tahun. Katanya, semakin lama maka akan semakin asin dan enak
rasanya. Ikan ini biasa dimasak dengan bawang goreng.
2.1.5 Permainan Khas Kalimantan Selatan
Ada
beberapa permainan khas Kalimantan Selatan yang seiring perkembangan zaman
sudah semakin tergerus dan terlupakan, diantaranya:
Gambar 9. Balogo
Permainan ini dilakukan oleh anak-anak
sampai dengan remaja dan umumnya hanya dimainak kaum lelaki. Logo terbuat dari
bahan tempurung kelapa dengan garis tengah sekitar 5-7cm dan tebal 1-2cm.
Biasanya membuatnya dengan dilapis dua direkatkan dengan bahan aspal atau
dempul agar kuat dan berat.
Bentuk
alat logo ini bermacam-macam, ada yang berbentuk bidawang (bulus), biuku (penyu),
segitiga, bentuk layang-layang, daun dan bundar.
Dalam
permainnannya harus dibantu dengan sebuah alat yang disebut panapak atau kadang-kadang beberapa daerah ada yang
menyebutnya dengan campa, yakni stik atau alat pemukul
yang panjangnya sekitar 40 cm dengan lebar 2 cm.
Gambar 10. Batewah
Batewah
merupakan istilah yang sering dipakai anak-anak di daerah Marabahan dan
Banjarmasin. Nama
batewah diambil dari kata ‘Tiwah’. Tiwah adalah upacara yang dilakukan penganut agama Kaharingan di
pedalaman Kalimantan. Upacara Tiwah dilakukan untuk mengantarkan arwah kerabat yang sudah
meninggal.
Pada
upacara Tiwah, keluarga yang melaksanakan upacara membeli seekor kerbau besar
atau sapi untuk dijadikan kurban. Selama upacara berlangsung, kurban tadi
diikat di tongkat
kayu dan seluruh keluarga yang ikut mengelilingi kurban tersebut. Masing-masing anggota
keluarga memegang tombak, kemudian melemparkannya ke kurban terus menerus
sampai kurban tidak berdaya lagi.
Seperti
halnya upacara Tiwah, susunan kayu itu pun dilempari untuk menjatuhkannya. Dalam bermain tewah minimal ada
3 orang pemain, 1
pemain jaga/pasang dan 2
pemain sebagai penewah yang naik/bersembunyi.
Sebanyak-banyaknya pemain dalam satu permainan tewah biasa ada 8 orang.
Permainan
ini bisa dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan.
Peralatan dalam Batewah ini sederhana dan mudah didapat. Sebelum bermain disiapkan beberapa buah kayu sepanjang kurang lebih 30 cm dengan lebar 3 cm. Kemudian disusun sedemikian rupa sebagai sasaran untuk ditewah. Disiapkan juga potongan kayu lain sebagai undas/alat pelempar kayu yang disusun tadi dengan jarak minimal 4 meter.
Peralatan dalam Batewah ini sederhana dan mudah didapat. Sebelum bermain disiapkan beberapa buah kayu sepanjang kurang lebih 30 cm dengan lebar 3 cm. Kemudian disusun sedemikian rupa sebagai sasaran untuk ditewah. Disiapkan juga potongan kayu lain sebagai undas/alat pelempar kayu yang disusun tadi dengan jarak minimal 4 meter.
2.1.6 Lagu
Daerah Kalimantan Selatan
Setiap daerah pasti memiliki lagu daerah. TIdak
terkecuali di Kalimantan, Khususnya Kalimantan Selatan. Diantaranya sebagai
berikut:
1. Ampar-ampar pisang
2. Paris Barantai
3. Ampat lima
4. Sapu tangan babuncu ampat
5. Baras kuning
2.2
Etnomatematika
Etnomatematika bukan merupakan sesuatu yang baru dalam pembahasan
matematika. Etnomatematika bisa diartikan sebagai matematika yang diterapkan
oleh kelompok budaya tertentu,
kelas-kelas profesional dan sebagainya (Gerdes dalam Tandililing, 2013). Selain
itu etnomatematika juga dapat diartikan sebagai studi tentang hubungan antara
matematika dengan latar belakang sosial budaya yang berhubungan yang
menunjukkan bagaimana matematika dihasilkan, dialihkan, disebarkan dan
dikhususkan dalam sistem budaya yang beragam (Zhang & Zhang, 2010).
Dari pendefinisian di atas dapat dikatakan bahwa matematika dapat
ditemukan dalam berbagai unsur budaya dan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Akibatnya secara umum bias dikatakan bahwa etnomatematika merupakan suatu
bidang yang mempelajari cara-cara yang dilakukan manusia dari budaya yang
berbeda dalam memahami, melafalkan dan menggunakan konsep dari budayanya yang
berhubungan dengan matematika. Sehingga dalam etnomatematika bisa dikaji
bagaimana cara orang memahami, mengekspresikan dan menggunakan konsep-konsep
budaya yang digambarkan secara matematis.
Karena budaya pada tiap daerah memiliki perbedaan, maka pembelajaran
yang berkaitan dengan etnomatematika juga termasuk pembelajaran yang berbasis
pendidikan multikultural. Menurut Danoebroto (2012:94), “pembelajaran
matematika berbasis pendidikan multikultural bertujuan untuk mengoptimalkan
prestasi belajar matematika sekaligus menumbuhkan kesadaran, kesepahaman,
toleransi, saling pengertian, dan semangat kebangsaan individu siswa sebagai
bagian dari masyarakat yang multikultur”.
Salah satu penelitian tentang etnomatematika adalah yang dilakukan oleh Mohamed
Waziri Yusuf, Ibrahim Saidudi, dan aisha Hailiru (2010) telah melakukan
penelitian pada budaya orang Hausa (budaya dominan di Nigeria Utara) dan
mendapatkan hasil bahwa sebelum kedatangan pendidikan barat, orang Hausa telah
menggunakan matematika di dalam kehidupan sehari-hari pada saat pengukuran
berat dan waktu,pemesanan dan melakukan pemilahan. Etnomatematika yang paling
menonjol pada kebudayaan ini adalah permainan tradisional yang dimainkan oleh
anak-anak atau orang dewasa dengan melibatkan perhitungan ajlabar, geometri,
dan aritmetika dalam permainannya.
2.3 Integrasi
etnomatematika materi satuan panjang dan berat terhadap
kearifan lokal Kalimantan Selatan.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya
oleh Mohamed Waziri Yusuf, Ibrahim Saidudi, dan aisha Hailiru (2010) pada budaya orang Hausa (budaya dominan di
Nigeria Utara) yang telah menggunakan matematika untuk mengukur satuan berat di
dalam kehidupannya sehari-hari,
pemakalah tertarik untuk mengintegrasikan materi satuan panjang dan
berat dengan kearifan lokal yang ada di Kalimantan Selatan.
Adapun materi satuan panjang dan berat ini berada di kelas IV dengan
Kompetensi Dasar dan indikator sebagai berikut:
Tabel 1
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
3.7 Menjelaskan
dan melakukan pembulatan hasil pengukuran panjang dan berat ke satuan
terdekat.
|
3.7.1 Siswa dapat menyebutkan satuan ukuran panjang
dan berat dengan benar
|
3.7.2 Siswa mampu menggunakan operasi satuan panjang
dan berat dengan tepat
|
|
3.7.3 Siswa mampu mengukur suatu benda menggunakan
satuan panjang dan berat dengan benar.
|
|
4.7 menyelesaikan masalah pembulatan hasil pengukuran panjang dan
berat ke satuan terdekat.
|
4.7.1 Siswa mampu membuat produk menggunakan satuan
panjang dan berat dengan benar.
|
4.7.2 Siswa dapat mempraktikkan penggunaan produk
yang dibuat dengan tepat.
|
Dari KD dan Indikator diatas, pemakalah mengintegrasikan etnomatematika
dengan menggunakan PBL (Problem Based Learning) dan PjBL (Project Based
Learning) di dalam pembelajaran.
Masalah matematika perlu diformulasi dengan
mengintegrasikan berbagai produk budaya dalam PBL PjBL. Dalam buku Kosasih
(2016) PBL memiliki 5 tahapan langkah pembelajaran meliputi, (1) mengorientasi
siswa terhadap masalah, (2) merumuskan permasalahan, (3) mengumpulkan data, (4)
merumuskan jawaban, dan (5) mengomunikasikan.
Sama halnya dengan PBL, PjBL pun menggunakan masalah
sebagai langkah awal pembelajarannya. Hanya saja masalah yang dimaksud berupa
pertanyaan yang mengarah kepada kebutuhan siswa akan kegiatan tertentu. Di
akhir pembelajaran siswa akan membuat
atau menggarap sebuah produk baik berupa kegiatan ataupun berwujud karya.
Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek
|
Perancangan langkah-langkah penyelesaian
proyek
|
Penentuan Proyek
|
Untuk menganalisis kemampuan tata
laksana digunakan indikator
berdasarkan tahapan PjBL menurut Keser dan Karagoca
(Kosasih, 2016) sebagai berikut:
Penyampaian hasil kegiatan dan presentasi
hasil proyek
|
Evaluasi proses dan hasil proyek
|
Penyelesaian proyek dengan fasilitas dari
monitoring guru
|
Gambar 11. Langkah PJBL
Berdasarkan tata pelaksanaan model PBL dan PjBL diatas,
pemakalah akan meruntutkan alur kolaborasi pengintegrasian etnomatematika
terhadap kearifan lokal daerah Kalimantan Selatan ke dalam pembalajaran materi
satuan panjang dan berat.
1.
Orientasi
siswa terhadap masalah
Didalam mengorientasi siswa terhadap masalah, dapat
dilakukan dengan menggunakan pengamatan terhadap fenomena/gambar yang
disajikan. Fenomena yang disampaikan disebut fakta, yakni contoh atau model
yang berkaitan dengan suatu materi ajar. Contohnya:
Gambar disamping
adalah jembaran Barito, salah satu jembatan kebanggaan orang Kalimantan
Selatan. Jembatan ini menghubungkan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Adakah yang tahu panjang jembatan Barito?
|
|
Apakah isi dari
gambar disamping?
Apa saja yang dijual
disana? Bagaimana cara berdagang disana?
|
Dari beberapa fenomena tersebut akan menghasilkan banyak sekali jawaban siswa yang beragam. Dari jawaban siswa yang beragam tersebut, guru dapat mengarahkan kesimpulan jawaban yang terkumpul kepada KD yang dipelajari yakni satuan panjang dan berat.
Satuan panjang dan berat memiliki satuan yang baku dan
tidak baku. Adapun satuan baku ukuran panjang ialah km, hm,
dam, m, dm, cm, dan mm, sedangkan satuan baku ukuran berat ialah
kg, hg, dag, g, dg, cg, dan mg. Di dalam mengenalkan satuan baku, dapat
diintegrasikan dengan media lagu banjar yaitu lagu Ampar-Ampar pisang yang
liriknya diubah. Proses penyampaian satuan baku dan tidak baku untung mengukur
panjang dan berat merupakan proses penanaman konsep kepada siswa. Berikut contoh pengintegrasian satuan baku
ukuran panjang menggunakan lagu:
Satuan Panjang
Gubahan
lirik Ampar-Ampar Pisang
Ayu ayu kita
Hafal
satuan panjang
Ada
kilometer himbah itu hektomer
Turun lagi
dekameter
Lapas itu
kita di meter
Tatamu desimeter
lawan centimeter
Tatamu nang
terakhir ada millimeter
Bila turun
sekali dikali 10
Bila naik
sekali dibagi 10
Setelah mengenalkan satuan baku, guru dapat pula
mengenalkan satuan baku yang biasanya digunakan pada saat proses jual beli dan
pengukuran. Contohnya, satuyuk, sedapa, sakilan, buting, bakul,dan burungan.
2.
Merumuskan
Permasalahan dan jawaban
Dari fenomena yang disampaikan tadi, guru bisa mengaitkan
dengan masalah yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Pada saat memasuki
proses merumuskan masalah, maka hal ini bisa disebut dengan penanaman prinsip.
Contoh:
Kasus 1
|
Rumah Firman tidak jauh dari
jembatan Barito. Hari Kamis nanti, Firman ingin pergi ke Pasar Terapung
Martapura. Jarak dari Jembatan Barito ke Martapura sekitar 15.000 m. Firman
berangkat dari rumahnya menggunakan taksi argo. Taksi argo tersebut
menggunakan satuan km. Jadi, berapa km kah jarak rumah firman menuju ke pasar
terapung?
|
Kasus 2
|
Ibu Aisyah ingin membuat pakasamdari ikan gabus. Ibu
Aisyah membeli ikan gabus sebanyak 10 kg. Untuk membuat pakasam, setiap 1 kg
ikan gabus membutuhkan garam sebanyak 15 dag garam. Berapa gram garam yang
sebaiknya ibu sediakan?
|
Dari contoh kasus diatas, anak–anak dapat mengeksplorasi
pengetahuannya tentang takaran untuk membuat pakasam, dan jarak dari jembatan
barito ke pasar terapung. Juga, anak-anak dapat memahami prinsip penggunaan
ukuran satuan panjang dengan lebih konkret dan familiar dengan kehidupan
sehari-hari mereka.
3.
Mengasosiasi,
membuat proyek, dan publikasi proyek
Selain disuguhi masalah seperti diatas, anak-anak juga
dapat dilibatkan langsung untuk membuat suatu proyek. Hal ini memang memerlukan
waktu yang cukup lapang dan tambahan biaya. Tapi guru bisa mensiasatinya dengan
menetapkan beberapa KD yang berkaitan dengan mengisinya oleh satu produk yang
bisa dibuat. Tahapan mengasosiasi dan membuat proyek ini sudah termasuk
penerapan skill pada siswa.
Didalam membuat sebuah proyek tentunya terlebih dahulu
membuat rancangan proyek. Guru memfasilitasi siswa untuk membuat proyek yang
berkesinambungan dengan KD pembelajaran. Tahapan awal guru bersama siswa dapat
membagikan tugas-tugas proyek dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan
proyek baik secara individu maupun kelompok. Berikut contoh proyek yang dapat
guru jadikan pilihan bahan proyek untuk siswa:
Proyek 1
|
Siswa diarahkan untuk membuat miniatur rumah banjar menggunakan stik.
Didalam miniatur dijelaskan tentang ukuran rumah banjar yang dibuat.
|
Proyek 2
|
Siswa diarahkan untuk membuat makanan khas Banjar yaitu manday. Disini
siswa akan mengunakan satuan berat untuk membuatnya. Setelah proses
pembuatan, siswa memberikan penjelasan takaran bahan-bahan untuk
pembuatannya.
|
Proyek 3
|
Siswa diarahkan untuk membuat permainan khas Banjar yang sudah hampir
punah, yakni balogo. Siswa diminta untuk membuat logo dan panapaknya atau
biasa sering disebut campa. Kemudian siswa menjelaskan ukuran logo dan campa
yang sudah ia buat.
|
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Demikian uraian tentang implementasi etnomatematika
dalam pembelajaran matematika, terutama pada materi satuan panjang dan berat.
Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut, 1)
integrasi etnomatematika di dalam proses pembelajaran matematika perlu
dilakukan. Dengan integrasi tersebut pembelajaran matematika menjadi lebih
bermakna dan menjadi lebih menarik. Hal ini disebabkan objek-objek matematika
berada di dalam pikiran manusia, yakni ada fakta, konsep, prinsip, dan skil.
Dimana 4 objek ini sdiharapkan dapat di aplikasikan langsung oleh siswa untuk
menyelesaikan permasalahan yang dijumpai kehidupan sehari-hari. Kemudian yang
ke 2) integrasi etnomatematika dalam pembelajaran diantaranya dapat melalui
model pembelajaran PBL dan PJBL dalam tahapan pembentukan konsep
matematika, metode pembelajaran, masalah matematika, konsep ataupun prinsip
matematika, dan penggunaan istilah.
Saran bagi para praktisi pendidikan hendaknya
mengintegrasikan etnomatematika dalam pembelajaran matematika yang tumbuh dan
berkembang di masyarakat tempat siswa tinggal agar siswa lebih mudah menerima fakta,
konsep prinsip, dan skill matematika.
DAFTAR PUSTAKA
D’Ambrosio, Ubiratan. (1985). Ethnomathematis
and Its Place in the History and Pedagogy of Mathematics. For the Learning of
Mathematics 5, 1 (February 1985). FLM Publishing Association, Montreal, Qucbec,
Canada.
Danoebroto, S. W. (2012). Model
pembelajaran matematika berbasis pendidikan multikultural. Jurnal
Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 1(1), 94-107.http://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/view/1054/ (diunduh: 28 Agustus 2018)
Hanik, Umi.
(2017). Integrasi Etnomatematika Dalam Pembelajaran Matematika
Sekolah Dasar.https://semnas.unikama.ac.id/pgsd/artikel.php. (Diunduh:28 Agustus 2018)
Ikrima. (2017). Studi Etnomatematika di Kalangan
Petani Desa Kelir Kecamatan Kalipuro. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. I No. 1
Bulan Juni Yahun 2017.http://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/transformasi/article/download/102/71.
(diunduh:28 Agustus 2018).
Kosasih, E. (2016). Strategi Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Yrama
Widya
Mohammad, W.Y., dkk.
(2010). Ethnomathematics
(A Mathematical Game in Hausa Culture). http://www.tmrfindia.org/sutra/v3i16.pdf. (diunduh:28 Agustus 2018)
Permana,
Cecep Eka. (2010). Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam
Mengatasi Bencana. Jakarta: Wedatama Widia Sastra.
Polya, George,
((1985), How To Solve It 2nd. Princeton
University Press:New Jersey
Tandililing, Edy. 2013. “Pengembangan
Pembelajaran Matematika Sekolah dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis
Budaya Lokal sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika
di Sekolah”. – (Ed) Prosiding Seminar Nasional: Penguatan Peran Matematika
dan Pendidikan Matematika untuk Indonesia yang Lebih Baik. http://eprints.uny.ac.id/10748. (diunduh: 28 Aguatus
2018)
Zhang, W., & Zhang, Q. (2010).
Ethnomathematics and its integration within the mathematics curriculum. Journal
of Mathematics Education, 3(1), 151-157. http://www/educationforatoz.net/images/_12_weizhang_zhang_and_qinqiong_zhang.pdf. (diunduh: 28 Agustus 2018)
Komentar
Posting Komentar