etnomatematika materi satuan panjang dan berat terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan






Makalah

Integrasi Etnomatematika Kearifan Lokal Kalimantan Selatan Dalam Pembelajaran Satuan Panjang dan Berat





Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah                          : Pengembangan Pembelajaran Matematika SD

Dosen Pengampu                  : Prof. Dr. Zaenuri SE, MSi Akt., MSi







Oleh:

Wulan Aulia Azizah (0103518091)







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2018




BAB I

PENDAHULUAN





1.1  Latar Belakang

Dalam pembelajaran matematika, salah satu faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa adalah adanya perbedaan konsep matematika yang diperoleh di sekolah dengan konsep matematika yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena konsep matematika yang diperoleh siswa di sekolah terlalu teoritis dan kurang kontekstual sehingga siswa kebingungan saat menemui permasalahan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya saja saat pembelajaran matematika materi satuan panjang dan satuan berat, anak-anak kesulitan mengimplementasikannya di kenyataan, karena pada proses pembelajaran hanya diarahkan pada pemahaman konsep saja, dimana anak hanya diminta menghafal satuan panjang dan berat tanpa ada proses pengintegerasian dengan permasalahan matematika yang sering mereka jumpai di kehidupan mereka sehari-hari.

Polya (1985) mengajukan empat langkah fase penyelesaian masalah yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekan kembali semua langkah yang telah dikerjakan.

Fase memahami masalah tanpa adanya pemahaman terhadap masalah yang diberikan, siswa tidak mungkin menyelesaikan masalah tersebut dengan benar, selanjutnya para siswa harus mampu menyusun rencana atau strategi.

Penyelesaian masalah, dalam fase ini sangat tergantung pada pengalaman siswa lebih kreatif dalam menyusun penyelesaian suatu masalah, jika rencana penyelesaian satu masalah telah dibuat baik tertulis maupun tidak. Langkah selanjutnya adalah siswa mampu menyelesaikan masalah, sesuai dengan rencana yang telah disusun dan dianggap tepat. Dan langkah terakhir dari proses penyelesaian masalah menurut polya adalah melakukan pengecekan atas apa yang dilakukan. Mulai dari fase pertama hingga hingga fase ketiga. Dengan model seperti ini maka kesalahan yang tidak perlu terjadi dapat dikoreksi kembali sehingga siswa dapat menemukan jawaban yang benar-benar sesuai dengan masalah yang diberikan.

Merujuk pada penyelesaian masalah menurut Polya, pemakalah berpendapat bahwa dibutuhkan sebuah pendekatan untuk menyelesaikan masalah seperti langkah-langkah Polya, dimana dibutuhkan pengkaitan di dalam menyusun penyelesaian suatu masalah dengan pengalaman yang nyata, pengalaman yang biasa muncul di kehidupan mereka sehari-hari, agar siswa menjadi lebih kreatif di dalam penyusunan penyelesaian masalah hingga di dalam penyelesaian masalah.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk menghubungkan antara matematika yang diajarkan di sekolah dengan matematika dalam kehidupan sehari-hari yang sering disebut etnomatematika. Kajian etnomatematika bersumber dari kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di masyarakat (Ambrosio, 1985). Hal ini sejalan dengan Permendikbud Nomor 21 tahun 2016 tentang sumber belajar yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan tempat bermain.

Pendekatan tersebut dapat diaplikasikan melalui pengintegrasian etnomatematika dalam pembelajaran matematika. Seperti yang kita ketahui, Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya, suku, dan etnis. Jadi, sangat memungkinkan sekali bagi guru untuk mengintegrasikan etnomatematika pada pembelajaran sehingga memunculkan nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan salah satu sumber belajar kontekstual dan akrab di kehidupan siswa sehari-hari.

Menurut Permana (2010:20), Kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-politis, historis, dan situasional yang bersifat lokal. Kearifan lokal juga dapat diartikan sebagai pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. 

Adapun salah satu kearifan lokal yang akan diangkat oleh penulis disini adalah kearifan lokal Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan merupakan pulau terluas di Indonesia, dengan 11 kabupaten dan 2 kotamadya, yang mana ada banyak kearifan lokal yang dapat diintegrasikan pada pembelajaran matematika materi satuan panjang dan berat.



1.2  Rumusan Masalah

Untuk membatasi penguraian pembahasan, maka penyusun membuat beberapa rumusan masalah berupa pertanyaan yaitu:

1.      Apa saja kearifan lokal yang ada di Kalimantan Selatan?

2.      Apa pengertian dari etnomatematika?

3.      Bagaimana cara pengintegerasian etnomatematika materi Satuan Panjang dan berat terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan?



1.3  Tujuan Penulisan

Sesudah membaca makalah ini pembaca diharapkan dapat:

1.      Un tuk mengetahui ragam kearifan lokal Kalimantan Selatan.

2.      Untuk memahami pengertian dari etnomatematika.

3.      Untuk memahami konsep dan cara pengintegrasian etnomatematika materi satuan panjang dan berat terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan.



























BAB II

PEMBAHASAN



2.1 Kearifan Lokal Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan merupakan pulau terluas di Indonesia. Wilayah ini kemudian dibagi ke dalam beberapa provinsi, salah satunya adalah Kalimantan Selatan dengan ibu kota Banjarmasin. Provinsi dengan slogan “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing” ini dibagi lagi ke dalam 11 kabupaten dan dua kotamadya. Sama seperti wilayah lainnya di Indonesia, Kalimantan Selatan juga menyimpan pesona wisata yang luar biasa. Selain hutan tropisnya yang memukau, jejak sejarah beberapa kerajaan di sana juga wajib Anda sambangi. Beberapa kearifan lokal yang tak boleh terlewat diantaranya, jembatan Barito,  rumah adat Kalimantan Selatan, tempat wisata di Kalimantan Selatan, makanan Khas Kalimantan Selatan, permainan khas Kalimantan Selatan, dan lagu daerah Kalimantan Selatan.

2.1.1 Jembatan Barito


Gambar 1

Jembatan Barito yang seluruh fisiknya didominasi dengan warna kuning, bila menengok ke atas, maka akan terlihat sebuah papan nama besar melekat erat pada ketinggian tiang baja di atas jembatan bertuliskan Jembatan Barito. Sebagaimana diketahui bahwasanya Jembatan Barito dibangun untuk menghubungkan Tepian Barat Sungai Barito dan Tepian Timur Sungai Barito yang jarak kedua tepian itu sekitar 800 meter dengan ketinggian dari permukaan air laut sekitar 18-20m.



2.1.2 Rumah Adat Kalimantan Selatan


Gambar 2

Gambar diatas merupakan rumah adat Kalimantan Selatan yang dikenal dengan nama rumah Bubungan Tinggi, ada juga istilah lain menyebut dengan “rumah Banjar”/”Rumah Ba'anjung”. Keduanya merujuk pada rumah adat Kalimantan Selatan. Disebut rumah Banjar, sebab memang mayoritas suku di Kalimantan Selatan adalah suku Banjar. Rumah yang mereka diami ini tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Oleh sebab itu ia dinobatkan sebagai rumah adat provinsi tersebut. Adapun istilah “Rumah Bubungan Tinggi” mengacu pada bentuk rumah adat itu sendiri yang memang bagian atamnya tinggi dan lancip hingga membentuk sudut 45 derajat. Adapun pondasi, tiang juga tongkat pada rumah Banjar haruslah tinggi sebab tanah Banjar cenderung berawa.



2.1.3 Wisata di Kalimantan Selatan

Ada beberapa tempat wisata yang memang menjadi ciri khas dan wajib disambangi apabila kita berkunjung ke Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Ada pasar terapung dan Pasar Cahaya Bumi Selamat atau yang lebih dikenal dengan pasar intan Martapura.


Gambar 3. Pasar Terapung

Pasar Terapung di Sungai Martapura termasuk dalam Kalender 100 Wonderful Events Indonesia tahun 2018. Pasar terapung ini mempertahankan seni jual beli tradisional dengan menggunakan perahu. para pedagang menggunakan perahu jukung, yaitu sejenis perahu kecil terbuat dari kayu. Para pedagang kebanyakan adalah para wanita yang mengenakan pakaian tanggui dan caping lebar khas Banjarmasin yang terbuat dari daun rumbia. Barang-barang yang mereka jual pada umumnya sama saja seperti pasar-pasar tradisional yang ada di darat, yaitu beras, sayur-mayur, buah-buahan, ikan, penganan (makanan) dan lain sebagainya.

Proses transaksi jual beli berlangsung ketika  para pedagang mulai berkumpul, kemudian pembeli mulai datang dengan menggunakan jukung sendiri maupun sewaan. Suasana pasar menjadi ramai dengan hilir-mudiknya jukung, baik besar maupun kecil. Apabila keadaan pasar sudah terlalu ramai dan perahu yang ada sudah berdesak-desakan, maka para pembeli bisa meloncat dari satu perahu ke perahu yang lain untuk membeli barang. Sebagai catatan, di pasar terapung ini juga sering terjadi transaksi barter antarpedagang yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk.

Gambar 4. Pasar Intan Martapura

Kota Martapura merupakan ibukota Kabupaten Banjar yang terletak di provinsi Kalimantan Selatan. Pada hari biasa, pasar ini dikunjungi oleh sekitar 10.000 orang perhari. Tapi pada akhir pekan atau hari libur nasional, Pasar Intan Martapura dapat dipadati hingga sekitar 20.000 pengunjung perhari.

Kompleks pertokoan yang ada di Pasar Intan Martapura menyediakan 87 toko intan yang dibagi dalam empat blok pasar. Batu intan yang diperjual belikan di pasar ini sudah diolah dalam bentuk perhiasan. Harganya berkisar antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung keunikan ataupun kelangkaan jenis batu intan.

Peluang bisnis batu intan Martapura tidak hanya ada di kota ini. Intan yang dibeli seharga Rp 20.000 di Pasar Intan Martapura bisa dijual kembali dengan harga Rp 50.000 bahkan Rp 100.000 di pulau Jawa. Sungguh bisnis yang cukup menguntungkan. Murahnya harga batu intan di pasar ini tentu saja karena proses penggosokan batu intan masih dilakukan secara tradisional sehingga pesonanya kurang terpancar.



2.1.4 Makanan khas Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan memiliki makanan khas yang wajib anda cicipi ketika berkunjung,diantaranya:


Gambar 5. Soto Banjar

Keunikan Soto Banjar dibanding jenis Soto lain di Indonesia yaitu tidak mengunakan nasi melainkan pakai ketupat, dan katanya lebih nikmat lagi kalau disantap bersama Sate.




Gambar 6. Ketupat Kandangan

Berbeda dengan Soto Banjar, Ketupat Kandangan memiliki kuah yang keruh karena ditambahkan santan sebagai penambah citarasanya. Selain itu, terkadang ditambahkan ikan atau telur sebagai variasi lauknya.

Perbedaan Ketupat Kandangan dengan ketupat pada umumnya yaitu nasi ketupatnya agak lebih keras. Tapi, hal ini bukanlah mengurangi citarasanya, justru malah meningkatkan kenikmatan ketupat tersebut. Yang belum coba, wajib mencicipinya.


Gambar 7. Manday

Manday, makanan khas Kalimantan ini terbuat dari kulit cempedak atau orang Kalimantan Selatan kerap menyebutnya tiwadak yang diawetkan dalam waktu yang cukup lama.

Proses pengawetannya pun cukup sederhana yaitu dicampur dengan garam, kemudian didiamkan dalam tempat yang tertutup rapat. Sedangkan lama pengawetan tergantung selera masing-masing, makin lama semakin asam rasanya dan semakin enak.

Manday umumnya dimasak dengan cara di goreng, walaupun ada juga yang memasaknya dengan cara digulai dan dibakar. Dengan ditambah beberapa rempah-rempah maka rasa asam dari kulit cempedak pasti enak rasanya.


Gambar 8. Pakasam

Pembuatan Iwak Pakasam atau disebut Iwak Basamu ini hampir mirip dengan Manday, perbedaannya hanya pada bahan dasarnya yaitu ikan seperti Ikan Haruan (Ikan Gabus), Ikan Pepuyu, Ikan Mangki, dan Ikan Sepat.

Proses pembuatannya yaitu ikan yang sudah dibersihkan akan diberikan garam seperti Manday dan diberi juga samu yaitu beras yang sudah ditumbuk tapi masih berbentuk. Kemudian ikan tersebut didiamkan beberapa waktu.

Lamanya pengawetannya tergantung selera masing-masing, ada yang berbulan-bulan saja, tapi ada juga yang bertahun-tahun. Katanya, semakin lama maka akan semakin asin dan enak rasanya. Ikan ini biasa dimasak dengan bawang goreng.



2.1.5 Permainan Khas Kalimantan Selatan

Ada beberapa permainan khas Kalimantan Selatan yang seiring perkembangan zaman sudah semakin tergerus dan terlupakan, diantaranya:


Gambar 9. Balogo

Permainan ini dilakukan oleh anak-anak sampai dengan remaja dan umumnya hanya dimainak kaum lelaki. Logo terbuat dari bahan tempurung kelapa dengan garis tengah sekitar 5-7cm dan tebal 1-2cm. Biasanya membuatnya dengan dilapis dua direkatkan dengan bahan aspal atau dempul agar kuat dan berat.

Bentuk alat logo ini bermacam-macam, ada yang berbentuk bidawang (bulus), biuku (penyu), segitiga, bentuk layang-layang, daun dan bundar. Dalam permainnannya harus dibantu dengan sebuah alat yang disebut panapak atau kadang-kadang beberapa daerah ada yang menyebutnya dengan campa, yakni stik atau alat pemukul yang panjangnya sekitar 40 cm dengan lebar 2 cm.


Gambar 10. Batewah

Batewah merupakan istilah yang sering dipakai anak-anak di daerah Marabahan dan Banjarmasin. Nama batewah diambil dari kata ‘Tiwah’. Tiwah adalah upacara yang dilakukan penganut agama Kaharingan di pedalaman Kalimantan. Upacara Tiwah dilakukan untuk mengantarkan arwah kerabat yang sudah meninggal.

Pada upacara Tiwah, keluarga yang melaksanakan upacara membeli seekor kerbau besar atau sapi untuk dijadikan kurban. Selama upacara berlangsung, kurban tadi diikat di tongkat kayu dan seluruh keluarga yang ikut mengelilingi kurban tersebut. Masing-masing anggota keluarga memegang tombak, kemudian melemparkannya ke kurban terus menerus sampai kurban tidak berdaya lagi.

Seperti halnya upacara Tiwah, susunan kayu itu pun dilempari untuk menjatuhkannya. Dalam bermain tewah minimal ada 3 orang pemain, 1 pemain jaga/pasang dan 2 pemain sebagai penewah yang naik/bersembunyi. Sebanyak-banyaknya pemain dalam satu permainan tewah biasa ada 8 orang.

Permainan ini bisa dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan.
Peralatan dalam Batewah ini sederhana dan mudah didapat. Sebelum bermain disiapkan beberapa buah kayu sepanjang kurang lebih 30 cm dengan lebar 3 cm. Kemudian disusun sedemikian rupa sebagai sasaran untuk ditewah. Disiapkan juga potongan kayu lain sebagai undas/alat pelempar kayu yang disusun tadi dengan jarak minimal 4 meter.

2.1.6 Lagu Daerah Kalimantan Selatan

Setiap daerah pasti memiliki lagu daerah. TIdak terkecuali di Kalimantan, Khususnya Kalimantan Selatan. Diantaranya sebagai berikut:

1.   Ampar-ampar pisang

2.   Paris Barantai

3.   Ampat lima

4.   Sapu tangan babuncu ampat

5.   Baras kuning



2.2 Etnomatematika

Etnomatematika bukan merupakan sesuatu yang baru dalam pembahasan matematika. Etnomatematika bisa diartikan sebagai matematika yang diterapkan oleh kelompok budaya tertentu, kelas-kelas profesional dan sebagainya (Gerdes dalam Tandililing, 2013). Selain itu etnomatematika juga dapat diartikan sebagai studi tentang hubungan antara matematika dengan latar belakang sosial budaya yang berhubungan yang menunjukkan bagaimana matematika dihasilkan, dialihkan, disebarkan dan dikhususkan dalam sistem budaya yang beragam (Zhang & Zhang, 2010).

Dari pendefinisian di atas dapat dikatakan bahwa matematika dapat ditemukan dalam berbagai unsur budaya dan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Akibatnya secara umum bias dikatakan bahwa etnomatematika merupakan suatu bidang yang mempelajari cara-cara yang dilakukan manusia dari budaya yang berbeda dalam memahami, melafalkan dan menggunakan konsep dari budayanya yang berhubungan dengan matematika. Sehingga dalam etnomatematika bisa dikaji bagaimana cara orang memahami, mengekspresikan dan menggunakan konsep-konsep budaya yang digambarkan secara matematis.

Karena budaya pada tiap daerah memiliki perbedaan, maka pembelajaran yang berkaitan dengan etnomatematika juga termasuk pembelajaran yang berbasis pendidikan multikultural. Menurut Danoebroto (2012:94), “pembelajaran matematika berbasis pendidikan multikultural bertujuan untuk mengoptimalkan prestasi belajar matematika sekaligus menumbuhkan kesadaran, kesepahaman, toleransi, saling pengertian, dan semangat kebangsaan individu siswa sebagai bagian dari masyarakat yang multikultur”.

Salah satu penelitian tentang etnomatematika adalah yang dilakukan oleh Mohamed Waziri Yusuf, Ibrahim Saidudi, dan aisha Hailiru (2010) telah melakukan penelitian pada budaya orang Hausa (budaya dominan di Nigeria Utara) dan mendapatkan hasil bahwa sebelum kedatangan pendidikan barat, orang Hausa telah menggunakan matematika di dalam kehidupan sehari-hari pada saat pengukuran berat dan waktu,pemesanan dan melakukan pemilahan. Etnomatematika yang paling menonjol pada kebudayaan ini adalah permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak atau orang dewasa dengan melibatkan perhitungan ajlabar, geometri, dan aritmetika dalam permainannya.



2.3 Integrasi etnomatematika materi satuan panjang dan berat terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Mohamed Waziri Yusuf, Ibrahim Saidudi, dan aisha Hailiru (2010)  pada budaya orang Hausa (budaya dominan di Nigeria Utara) yang telah menggunakan matematika untuk mengukur satuan berat di dalam kehidupannya sehari-hari,  pemakalah tertarik untuk mengintegrasikan materi satuan panjang dan berat dengan kearifan lokal yang ada di Kalimantan Selatan.

Adapun materi satuan panjang dan berat ini berada di kelas IV dengan Kompetensi Dasar dan indikator sebagai berikut:

Tabel 1

Kompetensi Dasar
Indikator
3.7 Menjelaskan dan melakukan pembulatan hasil pengukuran panjang dan berat ke satuan terdekat.


3.7.1 Siswa dapat menyebutkan satuan ukuran panjang dan berat dengan benar
3.7.2 Siswa mampu menggunakan operasi satuan panjang dan berat dengan tepat
3.7.3 Siswa mampu mengukur suatu benda menggunakan satuan panjang dan berat dengan benar.
4.7 menyelesaikan masalah pembulatan hasil pengukuran panjang dan berat ke satuan terdekat.


4.7.1 Siswa mampu membuat produk menggunakan satuan panjang dan berat dengan benar.
4.7.2 Siswa dapat mempraktikkan penggunaan produk yang dibuat dengan tepat.

Dari KD dan Indikator diatas, pemakalah mengintegrasikan etnomatematika dengan menggunakan PBL (Problem Based Learning) dan PjBL (Project Based Learning) di dalam pembelajaran.

Masalah matematika perlu diformulasi dengan mengintegrasikan berbagai produk budaya dalam PBL PjBL. Dalam buku Kosasih (2016) PBL memiliki 5 tahapan langkah pembelajaran meliputi, (1) mengorientasi siswa terhadap masalah, (2) merumuskan permasalahan, (3) mengumpulkan data, (4) merumuskan jawaban, dan (5) mengomunikasikan.

Sama halnya dengan PBL, PjBL pun menggunakan masalah sebagai langkah awal pembelajarannya. Hanya saja masalah yang dimaksud berupa pertanyaan yang mengarah kepada kebutuhan siswa akan kegiatan tertentu. Di akhir pembelajaran  siswa akan membuat atau menggarap sebuah produk baik berupa kegiatan ataupun berwujud karya.












Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek


Perancangan langkah-langkah penyelesaian proyek
Penentuan Proyek

Untuk menganalisis kemampuan tata laksana  digunakan indikator berdasarkan tahapan PjBL menurut Keser dan Karagoca (Kosasih, 2016)  sebagai berikut:


Penyampaian hasil kegiatan dan presentasi hasil proyek
Evaluasi proses dan hasil proyek


Penyelesaian proyek dengan fasilitas dari monitoring guru

 
















Gambar 11. Langkah PJBL

Berdasarkan tata pelaksanaan model PBL dan PjBL diatas, pemakalah akan meruntutkan alur kolaborasi pengintegrasian etnomatematika terhadap kearifan lokal daerah Kalimantan Selatan ke dalam pembalajaran materi satuan panjang dan berat.

1.   Orientasi siswa terhadap masalah

Didalam mengorientasi siswa terhadap masalah, dapat dilakukan dengan menggunakan pengamatan terhadap fenomena/gambar yang disajikan. Fenomena yang disampaikan disebut fakta, yakni contoh atau model yang berkaitan dengan suatu materi ajar. Contohnya:


Gambar disamping adalah jembaran Barito, salah satu jembatan kebanggaan orang Kalimantan Selatan. Jembatan ini menghubungkan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Adakah yang tahu panjang jembatan Barito?
Apakah isi dari gambar disamping?
Apa saja yang dijual disana? Bagaimana cara berdagang disana?




 Dari beberapa fenomena tersebut akan menghasilkan banyak sekali jawaban siswa yang beragam. Dari jawaban siswa yang beragam tersebut, guru dapat mengarahkan kesimpulan jawaban yang terkumpul kepada KD yang dipelajari yakni satuan panjang dan berat.

Satuan panjang dan berat memiliki satuan yang baku dan tidak baku. Adapun satuan baku ukuran panjang ialah km, hm, dam, m, dm, cm, dan mm, sedangkan satuan baku ukuran berat ialah kg, hg, dag, g, dg, cg, dan mg. Di dalam mengenalkan satuan baku, dapat diintegrasikan dengan media lagu banjar yaitu lagu Ampar-Ampar pisang yang liriknya diubah. Proses penyampaian satuan baku dan tidak baku untung mengukur panjang dan berat merupakan proses penanaman konsep kepada siswa.  Berikut contoh pengintegrasian satuan baku ukuran panjang menggunakan lagu:

Satuan Panjang

                                                Gubahan lirik Ampar-Ampar Pisang

 Ayu ayu kita

Hafal satuan panjang

Ada kilometer himbah itu hektomer

Turun lagi dekameter

Lapas itu kita di meter

Tatamu desimeter lawan centimeter

Tatamu nang terakhir ada millimeter

Bila turun sekali dikali 10

Bila naik sekali dibagi 10

Setelah mengenalkan satuan baku, guru dapat pula mengenalkan satuan baku yang biasanya digunakan pada saat proses jual beli dan pengukuran. Contohnya, satuyuk, sedapa, sakilan, buting, bakul,dan burungan.

2.   Merumuskan Permasalahan dan jawaban

Dari fenomena yang disampaikan tadi, guru bisa mengaitkan dengan masalah yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Pada saat memasuki proses merumuskan masalah, maka hal ini bisa disebut dengan penanaman prinsip.

Contoh:

Kasus 1
Rumah Firman tidak jauh dari jembatan Barito. Hari Kamis nanti, Firman ingin pergi ke Pasar Terapung Martapura. Jarak dari Jembatan Barito ke Martapura sekitar 15.000 m. Firman berangkat dari rumahnya menggunakan taksi argo. Taksi argo tersebut menggunakan satuan km. Jadi, berapa km kah jarak rumah firman menuju ke pasar terapung?


Kasus 2
Ibu Aisyah ingin membuat pakasamdari ikan gabus. Ibu Aisyah membeli ikan gabus sebanyak 10 kg. Untuk membuat pakasam, setiap 1 kg ikan gabus membutuhkan garam sebanyak 15 dag garam. Berapa gram garam yang sebaiknya ibu sediakan?

Dari contoh kasus diatas, anak–anak dapat mengeksplorasi pengetahuannya tentang takaran untuk membuat pakasam, dan jarak dari jembatan barito ke pasar terapung. Juga, anak-anak dapat memahami prinsip penggunaan ukuran satuan panjang dengan lebih konkret dan familiar dengan kehidupan sehari-hari mereka.





3.   Mengasosiasi, membuat proyek, dan publikasi proyek

Selain disuguhi masalah seperti diatas, anak-anak juga dapat dilibatkan langsung untuk membuat suatu proyek. Hal ini memang memerlukan waktu yang cukup lapang dan tambahan biaya. Tapi guru bisa mensiasatinya dengan menetapkan beberapa KD yang berkaitan dengan mengisinya oleh satu produk yang bisa dibuat. Tahapan mengasosiasi dan membuat proyek ini sudah termasuk penerapan skill pada siswa.

Didalam membuat sebuah proyek tentunya terlebih dahulu membuat rancangan proyek. Guru memfasilitasi siswa untuk membuat proyek yang berkesinambungan dengan KD pembelajaran. Tahapan awal guru bersama siswa dapat membagikan tugas-tugas proyek dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek baik secara individu maupun kelompok. Berikut contoh proyek yang dapat guru jadikan pilihan bahan proyek untuk siswa:

Proyek 1
Siswa diarahkan untuk membuat miniatur rumah banjar menggunakan stik. Didalam miniatur dijelaskan tentang ukuran rumah banjar yang dibuat.
Proyek 2
Siswa diarahkan untuk membuat makanan khas Banjar yaitu manday. Disini siswa akan mengunakan satuan berat untuk membuatnya. Setelah proses pembuatan, siswa memberikan penjelasan takaran bahan-bahan untuk pembuatannya.
Proyek 3
Siswa diarahkan untuk membuat permainan khas Banjar yang sudah hampir punah, yakni balogo. Siswa diminta untuk membuat logo dan panapaknya atau biasa sering disebut campa. Kemudian siswa menjelaskan ukuran logo dan campa yang sudah ia buat.



















































BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Demikian uraian tentang implementasi etnomatematika dalam pembelajaran matematika, terutama pada materi satuan panjang dan berat. Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut, 1) integrasi etnomatematika di dalam proses pembelajaran matematika perlu dilakukan. Dengan integrasi tersebut pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna dan menjadi lebih menarik. Hal ini disebabkan objek-objek matematika berada di dalam pikiran manusia, yakni ada fakta, konsep, prinsip, dan skil. Dimana 4 objek ini sdiharapkan dapat di aplikasikan langsung oleh siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang dijumpai kehidupan sehari-hari. Kemudian yang ke 2) integrasi etnomatematika dalam pembelajaran diantaranya dapat melalui model pembelajaran PBL dan PJBL dalam tahapan pembentukan konsep matematika, metode pembelajaran, masalah matematika, konsep ataupun prinsip matematika, dan penggunaan istilah.

Saran bagi para praktisi pendidikan hendaknya mengintegrasikan etnomatematika dalam pembelajaran matematika yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tempat siswa tinggal agar siswa lebih mudah menerima fakta, konsep prinsip, dan skill matematika.



















DAFTAR PUSTAKA




D’Ambrosio, Ubiratan. (1985). Ethnomathematis and Its Place in the History and Pedagogy of Mathematics. For the Learning of Mathematics 5, 1 (February 1985). FLM Publishing Association, Montreal, Qucbec, Canada.



Danoebroto, S. W. (2012). Model pembelajaran matematika berbasis pendidikan multikultural. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 1(1), 94-107.http://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/view/1054/ (diunduh: 28 Agustus 2018)



Hanik, Umi. (2017). Integrasi Etnomatematika Dalam Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.https://semnas.unikama.ac.id/pgsd/artikel.php. (Diunduh:28 Agustus 2018)



Ikrima. (2017). Studi Etnomatematika di Kalangan Petani Desa Kelir Kecamatan Kalipuro. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. I No. 1 Bulan Juni Yahun 2017.http://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/transformasi/article/download/102/71. (diunduh:28 Agustus 2018).



Kosasih, E. (2016).  Strategi Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Yrama Widya



Mohammad, W.Y., dkk. (2010). Ethnomathematics (A Mathematical Game in Hausa Culture). http://www.tmrfindia.org/sutra/v3i16.pdf. (diunduh:28 Agustus 2018)



Permana, Cecep Eka. (2010). Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam Mengatasi Bencana. Jakarta: Wedatama Widia Sastra.



Polya, George, ((1985), How To Solve It 2nd.  Princeton University Press:New Jersey

Tandililing, Edy. 2013. “Pengembangan Pembelajaran Matematika Sekolah dengan Pendekatan Etnomatematika Berbasis Budaya Lokal sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika di Sekolah”. – (Ed) Prosiding Seminar Nasional: Penguatan Peran Matematika dan Pendidikan Matematika untuk Indonesia yang Lebih Baik. http://eprints.uny.ac.id/10748. (diunduh: 28 Aguatus 2018)



Zhang, W., & Zhang, Q. (2010). Ethnomathematics and its integration within the mathematics curriculum. Journal of Mathematics Education, 3(1), 151-157. http://www/educationforatoz.net/images/_12_weizhang_zhang_and_qinqiong_zhang.pdf. (diunduh: 28 Agustus 2018)


Komentar